Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Oktober 2011

Offside, Perempuan Iran dan Sepakbola

Offside
Offside
Tahun: 2006
genre: Comedy, Drama, sport
durasi: 93 menit
Sutradara: Jafar Panahi
Penulis: Jafar Panahi, Shadmar Rastin
Pemain: Sima Mobarak-Shahi, Shayesteh Irani, Ayda Sadeqi

Sepak bola, siapa yang tidak kenal dengan olahraga satu ini. Pria, perempuan, orang dewasa, anak kecil, semua mengenal dan menggemari sepak bola. Setiap 4 tahun sekali, kala ajang perebutan gelar tertinggi, Piala Dunia, digelar, bak tersihir mantra hampir seluruh mata di dunia terpaku pada perhelatan ini. Tak terkecuali kaum perempuan di negara Iran. Sayangnya, di negara Arab yang dipimpin oleh Ahmadinejad ini perempuan dilarang menonton sepak bola secara langsung di dalam stadiun. Dengan alasan demi menghindari perlakuan dan kata-kata kasar atau tidak senonoh yang sering terjadi dalam pertandingan di stadiun. Lalu, apa jadinya jika para perempuan penggemar sepakbola nekat berusaha masuk ke stadiun untuk menonton pertandingan? Apa jadinya jika mereka menuntut hak yang sama dengan pria?

Keadaan inilah yang disuguhkan dalam film Offside besutan sutradara Iran yang terkenal dengan film-filmnya yang penuh dengan kritikan, Jafar Panahi. Offside menceritakan bagaimana 5 gadis remaja yang tidak saling mengenal, terkurung dalam satu "penjara buatan" yang sama. Mereka tertangkap berusaha ke stadion dengan menyamar menjadi pria demi menyaksikan pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Iran dengan Bahrain. Yang membuat mereka frustasi adalah penjara mereka terletak sangat dekat dengan salah satu gerbang kecil stadiun. Mereka pun berusaha, memohon-mohon pada para prajurit yang menjaga mereka untuk dibebaskan dan diperbolehkan menonton. Sebenarnya para prajurit muda yang sedang mengikuti wajib militer ini tidak peduli jika gadis-gadis ini mau menonton pertandingan di dalam stadiun sekalipun, bahkan mereka pun sebenarnya merasa bosan dan ingin menonton pertandingan itu. Tetapi, mereka takut dengan pimpinan mereka yang bisa datang sewaktu-waktu mengecek keberadaan para gadis. Akhirnya diputuskan salah satu prajurit akan mengintip melalui gerbang kecil itu dan melaporkan jalannya pertandingan kepada mereka layaknya komentator. Sayangnya, sebelum pertandingan usai mereka harus pergi dari stadion untuk dibawa ke kantor polisi.

Penggambaran karakter wanita Iran yang tegas dan pemberani ditampilkan melalui adegan dan dialog-dialog lucu dalam film. Seperti ketika salah satu prajurit menjelaskan alasan wanita dilarang menonton pertandingan di stadion adalah karena untuk melindungi mereka dari perbuatan dan kata-kata kasar atau tidak menyenangkan yang banyak terjadi dalam stadion. Alasan itu diputar balik oleh salah seorang gadis dengan menanyakan mengapa wanita dan pria justru boleh menonton berdua, gelap-gelapan dalam bioskop. Yang tentu tidak bisa dijawab secara meyakinkan oleh sang prajurit. Ada juga ketika salah seorang gadis sudah tidak tahan ingin buang air kecil dan akhirnya berhasil kabur ketika si prajurit yang mengantarnya ke toilet terlibat keributan dengan beberapa pria yang ia larang masuk ke toilet (tidak ada toilet khusus wanita dalam stadion). Ketika si prajurit putus harapan dan pasrah jika ia harus dihukum oleh pimpinannya, sang gadis justru kembali ke penjara, alasannya ia tidak tega dan khawatir dengan nasib si prajurit.

Film yang terinspirasi dari putri Panahi sendiri ini memenangkan penghargaan Silver Bear dalam Berlin International Film Festival Grand Jury Prize pada tahun 2006 dan juga menjadi film pilihan dalam Festifal Film New York dan Toronto pada tahun yang sama. Sayangnya film ini dicekal dan tidak ditayangkan di negeri asalnya sendiri.

Selasa, 13 September 2011

The Perks of Being A Wallflower

The Perks of Being a Wallflower
Stephen Chbosky
Pocket Books, Simon and Schuster Inc.
1999



Pertama kali tertarik sama novel ini gara-gara baca quote di salah satu sigi alias signature seseorang di suatu forum. It goes like this:
"And in that moment, I swear we were infinite."  -Charlie, The Perks of Being a Wallflower-

 Wallflower:
 -- One who does not participate in the activity at a social event because of shyness or unpopularity (thefreedictionary.com)
-- someone, usually in high school, who sees everything, knows everything, but does not say a word. they are not loners. they are introvertive, meaning they are shy and have a social disease. they cannot handle having someone pay attention to them even though they crave it as much as everyone else. wallflowers are just phased in, and faded into the backround. (urbandictionary.com)

Charlie bukan anak yang menonjol dan cenderung tertutup. Teman baiknya satu-satunya mati bunuh diri ketika tahun ajaran baru akan dimulai dan membuatnya harus berhubungan dengan psikolog. Ia kemudian menemukan dirinya seolah berada dalam dunia yang baru. Dunia dimana orang-orang mulai menerimanya.

Charlie, mungkin nama sebenarnya mungkin juga bukan, tapi ia ingin dipanggil seperti itu. Melalui suratnya ia menceritakan kehidupannya, sekolah, keluarga, pertemanan. Bagaimana ia menemukan hal-hal baru dalam dunianya seperti drugs, homoseksual, musik bagus,cinta pertama, dan merasa "tanpa batas".
When we got out of the tunnel, Sam screamed this really fun scream, and there it was. Downtown. Lights on buildings and everything that makes you wonder. Sam sat down and started laughing. Patrick started laughing. I started laughing. And in that moment, I swear we were infinite.
Stephen Chbosky menghadirkan sosok Charlie dengan segala ketidaksempurnaanya namun sangat nyata. Sosok Charlie yang tertutup di awal cerita bersama dengan Craig dan Sam, sahabat barunya, sedikit demi sedikit mulai membuka diri dan berani untuk "berpartisipasi" dengan dunia di sekitarnya daripada hanya sekedar melihatnya berlalu begitu saja.
I just need to know that someone out there listens and understands and doesn’t try to sleep with people even if they could have. I need to know that these people exist. 
So, this is my life. And I want you to know that I am both happy and sad and I'm still trying to figure out how that could be.
          -Charlie- 
Hingga akhir buku kita mungkin tak akan pernah tahu siapa Charlie sebenarnya atau siapa penerima surat itu, siapa orang-orang dalam suratnya. Tetapi di suatu waktu dalam hidup kita, kita pernah menjadi Charlie. Semangat akan hal baru, bingung bagaimana cara melaluinya, suatu masa saat sisi innocent dalam diri kita mulai menghilang. Masa menjadi remaja.

Enjoy reading, guys!

PS: Oh iya, buku ini sedikit mengingatkan saya dengan film Mary and Max dengan "the perfect stranger makes the best friend" nya. And I love that.