Disebuah rumah sakit bersalin
Seorang Ibu sedang melahirkan.
Bidan: Ayo bu sedikit lagi, sudah keliatan batok kepalanya, Bu. Sedikit lagi.
Ibu: *ngeden*
Bidan: Iyak, ayo Bu, lebih kuat lagi, tarik nafas, buang!
Ibu: *ngeden lebih kenceng lagi* huff eeerrgghh huufff
Bidan: Yak Bu...(hening sejenak) bu...kepalanya masuk lagi. Kita operasi caesar aja yah?
Ibu: ... he eh.. *pasrah*
Nah, itu mungkin rasanya sama kayak Sea Games kemarin. Indonesia juara umum tapi tanpa emas di cabang sepak bola. Senang luar biasa tapi mungkin akan lebih afdol kalo sepak bola juga dapet emas. Iya, segitunya emang.
Hypenya pun keliatan beda banget antara pertandingan sepak bola dengan olah raga lain,kecuali badminton mungkin, misalnya panah, kano, atau sepatu roda gitu. Seakan-akan emas dari bidang lain tuh enggak lebih penting dari emas sepak bola. Haduh kok sedih banget kalo gitu ya. Eits jangan sedih, menurut gw sih enggak gitu. Emas cabang lain juga penting, sayangnya beberapa pertandingan emang ga disiarin di TV jadi ya wajar kalau hypenya engga seheboh sepak bola. Belum lagi masyrakat Indonesia yang udah kangen sama prestasi sepak bola Indonesia, setelah AFF gagal, Pre Piala Dunia enggak lolos, rasanya enggak berlebihan kalau mereka mengharapkan lebih dari Timnas U-23 ini. Apalagi selama masa penyisihan grup, permainan Timnas bisa dikatakan gemilang sekali. Menang 3 kali dan hanya kalah sekali dengan Malaysia, dengan skor yang tipis. Dan terakhir kali Indonesia mengantongi emas di cabang sepak bola ternyata tahun 1987, 24 tahun lalu!! Gimana enggak mau heboh ngarep menang setelah liat U-23 yang aduhai mainnya itu.
Tapi yah seperti para komentator di stasiun TV berkata, "Dewi Fortuna belum berada di pihak kita, Bung."
Dewi Fortuna ketemu jodoh di Malaysia kali ya, dua kali ketemu dua kali kalah pula. Tapi Malaysia emang patut diacungi jempol soal mentalnya, main di kandang lawan plus "cemoohan" dari pendukung Indonesia enggak bikin permainan mereka jelek, malah kayaknya jadi energi buat menangin pertandingan. Mungkin ini yang harus dicontoh pemain Indonesia.
Ya sudahlah, kembang api sudah diletuskan ke udara di Jakabaring, Indonesia juga udah jadi juara umum pada akhirnya. Enggak ada yang perlu disedih-sedihin lagi, sepak bola kita emang kalah, tapi 182 medali emas di tangan Indonesia itu luar biasa. Dua tahun lagi semoga medali emas sepak bola Indonsia rebut dan juara umum lagi. Yakin bisa!
Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan
Selasa, 22 November 2011
Minggu, 23 Oktober 2011
Offside, Perempuan Iran dan Sepakbola
![]() |
| Offside |
Tahun: 2006
genre: Comedy, Drama, sport
durasi: 93 menit
Sutradara: Jafar Panahi
Penulis: Jafar Panahi, Shadmar Rastin
Pemain: Sima Mobarak-Shahi, Shayesteh Irani, Ayda Sadeqi
Sepak bola, siapa yang tidak kenal dengan olahraga satu ini. Pria, perempuan, orang dewasa, anak kecil, semua mengenal dan menggemari sepak bola. Setiap 4 tahun sekali, kala ajang perebutan gelar tertinggi, Piala Dunia, digelar, bak tersihir mantra hampir seluruh mata di dunia terpaku pada perhelatan ini. Tak terkecuali kaum perempuan di negara Iran. Sayangnya, di negara Arab yang dipimpin oleh Ahmadinejad ini perempuan dilarang menonton sepak bola secara langsung di dalam stadiun. Dengan alasan demi menghindari perlakuan dan kata-kata kasar atau tidak senonoh yang sering terjadi dalam pertandingan di stadiun. Lalu, apa jadinya jika para perempuan penggemar sepakbola nekat berusaha masuk ke stadiun untuk menonton pertandingan? Apa jadinya jika mereka menuntut hak yang sama dengan pria?
Keadaan inilah yang disuguhkan dalam film Offside besutan sutradara Iran yang terkenal dengan film-filmnya yang penuh dengan kritikan, Jafar Panahi. Offside menceritakan bagaimana 5 gadis remaja yang tidak saling mengenal, terkurung dalam satu "penjara buatan" yang sama. Mereka tertangkap berusaha ke stadion dengan menyamar menjadi pria demi menyaksikan pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Iran dengan Bahrain. Yang membuat mereka frustasi adalah penjara mereka terletak sangat dekat dengan salah satu gerbang kecil stadiun. Mereka pun berusaha, memohon-mohon pada para prajurit yang menjaga mereka untuk dibebaskan dan diperbolehkan menonton. Sebenarnya para prajurit muda yang sedang mengikuti wajib militer ini tidak peduli jika gadis-gadis ini mau menonton pertandingan di dalam stadiun sekalipun, bahkan mereka pun sebenarnya merasa bosan dan ingin menonton pertandingan itu. Tetapi, mereka takut dengan pimpinan mereka yang bisa datang sewaktu-waktu mengecek keberadaan para gadis. Akhirnya diputuskan salah satu prajurit akan mengintip melalui gerbang kecil itu dan melaporkan jalannya pertandingan kepada mereka layaknya komentator. Sayangnya, sebelum pertandingan usai mereka harus pergi dari stadion untuk dibawa ke kantor polisi.
Penggambaran karakter wanita Iran yang tegas dan pemberani ditampilkan melalui adegan dan dialog-dialog lucu dalam film. Seperti ketika salah satu prajurit menjelaskan alasan wanita dilarang menonton pertandingan di stadion adalah karena untuk melindungi mereka dari perbuatan dan kata-kata kasar atau tidak menyenangkan yang banyak terjadi dalam stadion. Alasan itu diputar balik oleh salah seorang gadis dengan menanyakan mengapa wanita dan pria justru boleh menonton berdua, gelap-gelapan dalam bioskop. Yang tentu tidak bisa dijawab secara meyakinkan oleh sang prajurit. Ada juga ketika salah seorang gadis sudah tidak tahan ingin buang air kecil dan akhirnya berhasil kabur ketika si prajurit yang mengantarnya ke toilet terlibat keributan dengan beberapa pria yang ia larang masuk ke toilet (tidak ada toilet khusus wanita dalam stadion). Ketika si prajurit putus harapan dan pasrah jika ia harus dihukum oleh pimpinannya, sang gadis justru kembali ke penjara, alasannya ia tidak tega dan khawatir dengan nasib si prajurit.
Film yang terinspirasi dari putri Panahi sendiri ini memenangkan penghargaan Silver Bear dalam Berlin International Film Festival Grand Jury Prize pada tahun 2006 dan juga menjadi film pilihan dalam Festifal Film New York dan Toronto pada tahun yang sama. Sayangnya film ini dicekal dan tidak ditayangkan di negeri asalnya sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)
