Seorang teman gue beberapa waktu yang lalu, yah hampir setahun deh kayaknya, mengejutkan semua orang dengan jadian dengan temen SMP-nya dulu, yang adalah temen SMP gw juga, sih. Terus apa mengejutkannya? Orang pacaran sama temen SD-nya juga ada. Iya, sih, yang mengejutkan adalah kalau kita flashback ke kehidupan masa SMP, waktu itu enggak akan ada, deh, terlintas di otak kalo cewe ini akan bisa pacaran sama cowo ini. Boro-boro pacaran, main satu lingkungan pun semua bakal sangsi. Yang satu urakan, rule breaker, yang satu rapih, rajin, macam putri keraton. Tapi, yah, jodoh siapa yang tau, kan.
Pernah denger opposite attraction? Mungkin itu kata yang tepat buat gambarin hubungan mereka.
Jujur, gue sempet was-was waktu tau mereka jadian. Gimana enggak track record si cowo ini waktu SMP lumayan bikin ketar-ketir. Tipe keluar masuk BP, bandel deh. Sempet gue nanya sama dia "lo tau gimana dia waktu SMP kan?" dia jawab kira-kira gini "yah cuma tau gitu-gitu aja. Lo kan sempet satu kelas ama dia Gel, Lo tau dia ga? Ada gosip apa ttg dia?". Gue bingung. Akhirnya gue bilang aja "nakal-nakal anak SMP, ga lebih". Karena gue pikir itu kan SMP, siapa tau dia udah berubah, enggak "seliar" dulu lagi, lagipula menurut si cewe, si cowo baik sama dia and she's happy with him. Dan kalau denger ceritanya, sih, cowo ini kayaknya juga ga aneh-aneh jadi gue enggak begitu was-was lagi. Abis itu gue jarang ngobrol sama dia lagi. Dan belum ada gosip mereka putus tuh, malah tambah mesra kayaknya, dan sebagian orang masih kaget sana sini kalo denger tentang mereka. Hihi.
Love indeed could change someone into a better person.
Waktu ada nikahan temen SMA, gue akhirnya sempet ngobrol bareng mereka. Tentu aja gue langsung keluarkan semua rasa penasaran gue. "Lo bingung kan Rat gue bisa sama dia? Gue aja masih suka bingung," gitu kata si cowo. Dan keluarnya semua kenapa dan mengapa bisa mereka "berjodoh". And I'm glad they made it. Kalau inget-inget si cewe yang dulu, si cowo waktu SMP, terus liat mereka sekarang, gue masih suka heran, "kok bisa?" tapi gue juga bersyukur they found each other. I see them changing for each other, to be a better one, of course. Kadang gue suka engga sadar senyum kalo baca semacam puisi yang suka ditulis teman gue di notes FB nya. She seems so happy :). Berarti langkah yang gue ambil untuk engga ngomongin kelakuan jaman SMP bener, maksudnya bisa aja kan temen gue jadi mengurungkan niatnya buat lebih jauh. Walaupun gue tahu temen gue yang satu ini bukan tipe yang kayak begitu, dan itu juga udah jaman SMP, basi.
Then, I think to myself: "Love is unpredictable and falling in love is such a beautiful feeling".
Kalau udah begini tinggal gue ngayal babu kapan ya gue... I miss falling in love, heheee...
pic credit: stockarch
Selasa, 20 September 2011
Selasa, 13 September 2011
The Perks of Being A Wallflower
The Perks of Being a Wallflower
Stephen Chbosky
Pocket Books, Simon and Schuster Inc.
1999
Stephen Chbosky
Pocket Books, Simon and Schuster Inc.
1999
Pertama kali tertarik sama novel ini gara-gara baca quote di salah satu sigi alias signature seseorang di suatu forum. It goes like this:
"And in that moment, I swear we were infinite." -Charlie, The Perks of Being a Wallflower-
Wallflower:
-- One who does not participate in the activity at a social event because of shyness or unpopularity (thefreedictionary.com)
Charlie bukan anak yang menonjol dan cenderung tertutup. Teman baiknya satu-satunya mati bunuh diri ketika tahun ajaran baru akan dimulai dan membuatnya harus berhubungan dengan psikolog. Ia kemudian menemukan dirinya seolah berada dalam dunia yang baru. Dunia dimana orang-orang mulai menerimanya.
Charlie, mungkin nama sebenarnya mungkin juga bukan, tapi ia ingin dipanggil seperti itu. Melalui suratnya ia menceritakan kehidupannya, sekolah, keluarga, pertemanan. Bagaimana ia menemukan hal-hal baru dalam dunianya seperti drugs, homoseksual, musik bagus,cinta pertama, dan merasa "tanpa batas".
Wallflower:
-- One who does not participate in the activity at a social event because of shyness or unpopularity (thefreedictionary.com)
| -- someone, usually in high school, who sees everything, knows everything, but does not say a word. they are not loners. they are introvertive, meaning they are shy and have a social disease. they cannot handle having someone pay attention to them even though they crave it as much as everyone else. wallflowers are just phased in, and faded into the backround. (urbandictionary.com) |
Charlie bukan anak yang menonjol dan cenderung tertutup. Teman baiknya satu-satunya mati bunuh diri ketika tahun ajaran baru akan dimulai dan membuatnya harus berhubungan dengan psikolog. Ia kemudian menemukan dirinya seolah berada dalam dunia yang baru. Dunia dimana orang-orang mulai menerimanya.
Charlie, mungkin nama sebenarnya mungkin juga bukan, tapi ia ingin dipanggil seperti itu. Melalui suratnya ia menceritakan kehidupannya, sekolah, keluarga, pertemanan. Bagaimana ia menemukan hal-hal baru dalam dunianya seperti drugs, homoseksual, musik bagus,cinta pertama, dan merasa "tanpa batas".
When we got out of the tunnel, Sam screamed this really fun scream, and there it was. Downtown. Lights on buildings and everything that makes you wonder. Sam sat down and started laughing. Patrick started laughing. I started laughing. And in that moment, I swear we were infinite.
Stephen Chbosky menghadirkan sosok Charlie dengan segala ketidaksempurnaanya namun sangat nyata. Sosok Charlie yang tertutup di awal cerita bersama dengan Craig dan Sam, sahabat barunya, sedikit demi sedikit mulai membuka diri dan berani untuk "berpartisipasi" dengan dunia di sekitarnya daripada hanya sekedar melihatnya berlalu begitu saja.
I just need to know that someone out there listens and understands and doesn’t try to sleep with people even if they could have. I need to know that these people exist.So, this is my life. And I want you to know that I am both happy and sad and I'm still trying to figure out how that could be.-Charlie-
Hingga akhir buku kita mungkin tak akan pernah tahu siapa Charlie sebenarnya atau siapa penerima surat itu, siapa orang-orang dalam suratnya. Tetapi di suatu waktu dalam hidup kita, kita pernah menjadi Charlie. Semangat akan hal baru, bingung bagaimana cara melaluinya, suatu masa saat sisi innocent dalam diri kita mulai menghilang. Masa menjadi remaja.
Enjoy reading, guys!
PS: Oh iya, buku ini sedikit mengingatkan saya dengan film Mary and Max dengan "the perfect stranger makes the best friend" nya. And I love that.
Langganan:
Komentar (Atom)

